JAKARTA - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dari 2011-2012 tercatat baru
menyelesaikan 4.577 kasus yang melanda TKI. Jumlah tersebut belum
termasuk permasalahan yang tidak terselesaikan. Permasalahan TKI terus
saja hadir, di antaranya masalah overstayer, kekerasan fisik, dan pelecehan seksual yang bahkan menelan korban jiwa.
Praktisi LSM Perempuan Merah Putih, Enni Eryani Hoesein, mengatakan,
masalah ketenagakerjaan Indonesia bermula dari Perusahaan Jasa Tenaga
Kerja Indonesia, terutama PJTKI ilegal.
Sebagai sebuah perusahan jasa, kebanyakan dari mereka lebih mementingkan
pemenuhan permintaan dari agen penyalur jasa TKI. Karena tuntutan ini
pula, bekal awal TKI untuk bekerja tidak sempat diberikan. “Yang lebih
parah adalah tidak terpenuhinya syarat-syarat administatif untuk bekerja
di luar negeri,” ulasnya.
Enni melihat permasalahan administratif adalah awal kehadiran
masalah-masalah lainnya untuk para TKI. Menurut Enni, selain kekerasan
yang diterima oleh para TKI, berubahnya orientasi kerja dari pekerja
rumah tangga menjadi pekerja seks adalah satu permasalahan baru yang
hadir. “Awalnya pelecahan seksual yang diterima oleh para pekerja
membuat mereka kabur dari rumah tempat mereka bekerja,” jelasnya.
Kemudian, lanjut Enni, para pekerja yang kabur membentuk komunitas dan
tinggal bersama. Pada kondisi seperti itu, ketika ada tuntutan untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan susahnya mendapat pekerjaan dengan status
tenaga kerja yang tidak jelas, akhirnya mereka memutuskan untuk bekerja
menjadi pekerja seks.
Enni mengatakan banyak di antara TKI yang bekerja adalah anak-anak di
bawah umur. Ketika mereka mendaftarkan diri kepada PJTKI ilegal, PJTKI
ini memalsukan data mereka. Tujuannya agar syarat-syarat administratif
dapat diurus dengan mudah. Pemalsuan data inilah awal dari
masalah-masalah lainnya.
Permasalahan ini jelas Enni, sama seperti perdagangan manusia. Enni
melihat masalah pemerkosaan hingga melahirkan anak-anak majikan
merupakan bentuk direndahkannya bangsa Indonesia. “Kita itu seperti
tidak punya kekuatan di luar sana,” kata Enni.
Bahkan menurutnya, berubahnya profesi TKI dari pekerja rumah tangga,
hingga menjadi pekerja seks merupakan catatan buruk bangsa Indonesia.
Hal ini menunjukan selain lemahnya citra Indonesia di mata dunia,
ternyata perhatian pemerintah terhadap tenaga kerja pun kurang.
“Permasalahan ini harus direspons dengan serius. Indonesia perlu
mengadakan penertiban PJTKI, selain titik-titik yang memungkinkan
penyelundupan harus ditutup,” ungkapnya.


03:23
Unknown
.gif)

0 comments:
Post a Comment